Berita menghangat tiba dari daerah tepian di antara maroko dan sahara barat.

 

Laporan dw indonesia yang diambil kamis (19/11/2020) menyebutkan. Desing peluru dan letusan senjata api kembali lagi menyalak di daerah tepian di antara maroko dan sahara barat. Pbb memberikan laporan pertarungan berjalan semalaman. Pada selasa 17 november 2020 waktu di tempat.

Visi perdamaian pbb. Minurso. Mengakui “lagi mendapatkan laporan jika shooting dilepaskan dari bermacam posisi semalaman.” kata jurubicara pbb stephane dujarric. “kami menekan ke-2 faksi ambil langkah yang dibutuhkan untuk menurunkan kemelut.”

Front polisario mengakui gempuran terbaru pada militer maroko memunculkan rugi besar habis mereka membombardir pos militer di tepian. Tetapi kebenaran claim itu tidak dapat diverifikasi.

Semenjak 1970-an maroko berperang dengan front polisario untuk kuasai sahara barat yang ditempati etnis sahrawi. Akhir minggu kemarin. Barisan pimpinan brahim ghali itu secara sah memundurkan diri dari gencatan senjata yang berjalan semenjak 1991. Susul operasi militer maroko di tepian. Jumat 13 november.

Maroko kebalikannya mendakwa front polisario bertanggungjawab atas eskalasi. “ialah satu teror bila anda mengirim masyarakat sipil membawa senjata ke zone penyangga. Bila anda memeriksa kendaraan dan larang truk lewat.” kata hamdi ould rachid. Gubernur laayoune-sakia el-hamra. Satu dari 2 propinsi bentukan maroko di sahara barat.

Percik api awalannya menjalar dari satu pos tepian dusun guerguerat. Yang berada di tepian. Pos itu membuat perlindungan lajur penyambung khusus di antara maroko dan mauritania. Walau melewati daerah yang terkuasai polisario.

Minggu kemarin barisan itu mengadakan tindakan demo “nyaman” melawan pembangunan pos tepian. Selaku jawaban. Militer maroko memperlancar operasi keamanan pada sabtu (14/11). Pemerintahan di rabat mendakwa polisario memblok lajur dagang itu.

Daerah sahara barat di antara wilayah kekuasaan maroko dan republik demokratik arab sahrawi yang dipisah tembok tepian sepanjang 2.700 km.buntutnya front polisario mengumumkan perang. Mohamed salem ould salek. Menteri luar negeri republik demokrasi arab sahrawi. Menjelaskan gencatan senjata yang dipantau pbb “ialah masa lampau.” “pertarungan lagi bersambung sesudah tindak kriminil yang dikerjakan pasukan maroko di guerguerat.” paparnya.

Sesaat menteri pertahanan sahrawi. Abdallah lahbib. Mengakui “pasukan kami sukses mencatatkan kemenangan penting dan membuat rugi materil dan korban jiwa pada pihak lawan.”

Tetapi demikian. Pos tepian yang dipersoalkan polisario diberitakan telah kembali lagi bekerja pada sabtu lalu. “belasan truk yang tidak dapat lewat sepanjang tiga minggu sebab perlakuan milisi polisario telah melalui tepian maroko dan mauritania.” berdasar laporan kantor informasi pemerintahan maroko. Map. Yang mencuplik kesaksian petinggi keamanan mauritania.

Sahara barat ialah pentas bentrokan pos-kolonialisme yang berada di utara afrika. Saat spanyol akhiri kekuasaannya pada 1975. Susul perang kemerdekaan menantang etnis sahrawi. Maroko mengirim 20.000 tentara dan memacu perang yang berjalan sepanjang 16 tahun.

Etnis sahrawi berperang di bawah bendera front polisario yang disokong oleh jiran maroko. Yaitu aljazair dan libya. Ke-2 negara. Khususnya aljazair. Secara teratur menyuplai senjata dan peralatan perang untuk front polisario.

Tetapi semenjak gencatan senjata 1991. Maroko kuasai nyaris 80% daerah sahara barat. Sesaat tersisa daerah di sejauh tepian dengan aljazair terkuasai republik arab sahrawi.

Eskalasi terbaru berlangsung di guerguerat yang berada di tepian selatan. Di sini maroko membuat lajur bebas kendala ke arah mauritania selaku koridor perdagangan. Tetapi kehadiran pos itu dipandang mencederai kesepakatan gencatan senjata.

“guerguerat ialah pemicunya. (pos) itu ialah satu invasi.” kata menteri luar neger salem ould salek. “pasukan sahrawi cuman bela diri dan memberi respon pasukan maroko yang usaha geser tembok tepian yang mengidentifikasi garis demarkasi.” di bawah kesepakatan 1991.

“perang telah diawali. Maroko sendiri yang melikuidasi gencatan senjata.”

 

error: Content is protected !!